Langsung ke konten utama

Disiplin Positif itu tanpa Ancaman dan hukuman

Saat Anak Mendapat Ancaman
Lanjut lagi belajar bareng disiplin positif (DISPO)

Ancaman diberikan orangtua kepada anak atas dasar cinta dengan tujuan anak berperilaku baik setelah diancam. 

Ancaman tak jarang manjur, namun sifatnya instan dan tidak berdampak positif secara jangka panjang. 

Seperti halnya hukuman, ancaman menumbuhkan ketergantungan anak pada faktor di luar dirinya untuk mendisiplinkan diri. 

Kalau tidak ada ancaman, tidak perlu disiplin, mekanisme seperti ini yang akan tumbuh dan tidak sesuai dengan penerapan disiplin positif.

Ancaman biasanya muncul karena orangtua tergoda untuk mengontrol anak sesegera mungkin. Hindari ancaman dengan ingat tujuan jangka panjang dalam menumbuhkan disiplin, 

kelola emosi diri, serta pilih alat disiplin positif yang dapat menumbuhkan kemandirian dari dalam diri anak.

Lihat poster ini dan mari refleksikan kembali cara kita sehari-hari dalam menerapkan disiplin kepada anak.

 

Ingat Disiplin bukan tujuan. Disiplin adalah alat. Alat agar mencapai tujuan yang lebih besar yaitu menjadi orang yang lebih mandiri. 
Semua orang punya tujuan yang sama dalam kemandirian anak. Bukan mandiri dalam arti sempit seperti punya rumah sendiri punya kehidupan sendiri tapi yang terpenting adalah anak dapat berfikir, bertindak dan mengambil keputusan secara mandiri karena orang tua tidak selamanya dapat mengawasi anak. 
Pada satu titik anak akan mengandalkan dirinya sendiri, dan mengambil keputusan sendiri seperti apakah saya akan jajan  A atau jajan B, menonton film A atau film B, mengikuti atau menolak ajakan teman keputusan ini akan dijalani dalam hari harinya. 
Disiplin menjadi modal dasar, modal agar anak mampu menentukan baik dan benar dalam perjalanan hidupnya.
Disiplin yang perlu ditumbuhkan adalah disiplin diri yang dilakukan tanpa pengawasan. Disiplin yang bergantung pada dirinya sendiri yaitu disiplin positif. 
Jadi apa arti disiplin positif, disipilin positif adalah yang motivasinya muncul dari dalam diri tanpa adanya ancaman, hukuman dan sogokan atau iming-iming yang motivasinya muncul dari luar diri anak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenalkan Profil Pelajar Pancasila dalam Pelayanan Konseling

  Mengenalkan Profil Pelajar Pancasila dalam Pelayanan Konseling   Pelajar atau Peserta Didik adalah aset negara yang sangat berharga. Mereka nantinya adalah para pemimpin di masa yang akan datang. Nama saya Lulu Yudhisinta Nuranggeraini. Pekerjaan saya adalah seorang Konselor di sekolah dan Konselor untuk masyarakat. Secara kedinasan saya bekerja di Sekolah Menengah Pertama Negeri 25 Bandar Lampung. Tugas kami adalah memberikan Pelayanan Konseling kepada Peserta Didik agar dapat mengenal, memahami diri serta mengoptimalkan potensi. Tidak banyak yang mengetahui tentang profesi pekerjaan kami. Konselor di sekolah dulu di sebut sebagai Guru Bimbingan Konseling, sejalan dengan kemajuan Profesi Konseling maka saat ini dianjurkan untuk disebut sebagai konselor.   Penulisan konselor memiliki dua jenis, konselor dengan penulian huruf “k” kecil menandakan ia adalah konselor yang telah menempuh pendidikan akhir Strata 1 Bimbingan Konseling. sedangkan penulisan Konselor d...

Lokakarya Orientasi PGP Angkatan 11 2024

Lokakarya Orientasi PGP Angkatan 11 2024 Hari ini Sabtu 22 Juni 2024  adalah hari yang istimewa karena untuk yang pertama kali, pengajar praktik bisa bertemu dengan para CGP  Rasanya senang sekali, Selamat datang Teman-teman belajar yang hebat, terimakasih sudah mau belajar dengan penuh semangat dari pagi sampai sore di SMP Xaverius 4  Semoga disetiap sesi dapat menambah ilmu dan wawasan serta pengalaman, dan ingat selalu membuat tulisan refleksi 

3.3.a.10.1. Forum Berbagi Aksi Nyata - Pengelolaan Program Yang Berdampak Pada Murid

 Lulu Yudhisinta Nuranggeraini., Kos CGP Angkatan 2 Kota Bandar Lampung   Fasilitator: Mahmun Zulkifli., M.Pd Pengajar Praktik: Yulia Budiarti., S.Pd   Sekolah memiliki banyak aset yang dapat digunakan salah satunya adalah aset manusia dan aset sosial , didalam kehidupan sehari – hari masyarakat sekolah dihadapkan dengan rutinitas yang membuat psikologi diri terpancing melaksankan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Sebagai seorang pendidik kita mendapatkan amanah untuk menuntun peserta didik untuk mendapatkan kebahagiaan. Mewujudkan pembelajaran yang mendorong well-being pada ekosistem sekolah. Dan kebahahagiaan akan terjadi ketika kita memiliki mental yang sehat. Seperti juga fisik kesehatan mental merupakan aset yang harus dijaga dengan baik, karena kita sebagai individu tidak bisa mengelola dengan baik maka manusia amat mudah menjadi sosok yang kurang humanis, bekerja atau belajar kurang maksimal, dan kurang produktif. Untuk itu penulis merencanakan, menjal...